KUNINGAN, JELAJAHTVNEWS.COM — Enam tahun Saung Kopi Hawu bukan sekadar soal bertahan sebagai tempat usaha. Dari ruang sederhana di Kuningan, gerakan kebudayaan terus dibangun hingga menjangkau lebih luas melalui Hibar Budaya Nusantara.
Milangkala ke-6 Saung Kopi Hawu menjadi momentum untuk kembali mempertemukan seniman, pelaku budaya, komunitas, generasi muda, pelaku ekonomi kreatif, dan masyarakat dalam satu ruang kebersamaan.
Di balik perjalanan tersebut, Owner Saung Kopi Hawu Dadan A. Latif membawa satu pesan utama: budaya Kuningan harus tetap hidup, berkembang, dan mampu mengikuti perubahan zaman tanpa kehilangan akar.
Hibar Budaya Nusantara menjadi salah satu ruang yang digunakan untuk mewujudkan gagasan tersebut. Bukan hanya menampilkan kesenian, kegiatan ini juga membuka ruang pertemuan bagi para pelaku budaya dan ekonomi kreatif untuk berkolaborasi.
Generasi muda menjadi salah satu kunci.
Mereka tidak cukup hanya mengenal budaya sebagai warisan masa lalu. Generasi muda harus diberi ruang untuk menjadi pelaku, menciptakan karya, mengembangkan kreativitas, sekaligus membawa identitas budaya Kuningan ke ruang yang lebih luas.
Pesan itu semakin kuat melalui tema Milangkala ke-6:
“Nu Ngora Nu Ngabuana.”
Tema tersebut menjadi gambaran tentang generasi muda yang tetap berpijak pada nilai-nilai budaya Sunda, tetapi mampu bergerak melampaui batas daerah.
Sebelumnya, perjalanan Hibar Budaya Nusantara juga memiliki rangkaian tema yang saling berkaitan. Mulai dari “Nu Ngora Nu Ngabudaya”, “Balikeun Tali Paranti, Nimbang Rasa Ku Nu Ngora”, “Napak Nanjeur Waluya”, hingga “Nanjeurkeun Kawaaluyaan Pancer Kabudayaan.”
Rangkaian tema itu menunjukkan satu arah yang konsisten: menjaga budaya sekaligus mendorong generasi muda menjadi bagian dari keberlanjutannya.
Dadan menilai Kuningan memiliki kekayaan budaya yang besar. Persoalannya bukan hanya bagaimana mempertahankan warisan tersebut, tetapi bagaimana menjadikannya tetap relevan dan memiliki ruang untuk berkembang.
Karena itu, budaya dan ekonomi kreatif dinilai dapat berjalan beriringan.
Seni pertunjukan, kuliner tradisional, kerajinan, komunitas kreatif, hingga berbagai produk masyarakat dapat menjadi bagian dari ekosistem yang menghidupkan kebudayaan sekaligus membuka peluang ekonomi.
Namun, gerakan tersebut tidak dapat berjalan sendiri.
Dukungan seniman, komunitas, masyarakat, pemerintah, tokoh budaya, pelaku usaha, serta generasi muda menjadi bagian penting dalam perjalanan Hibar Budaya Nusantara.
Dari ruang sederhana, gagasan itu kemudian berkembang menjadi gerakan yang lebih luas.
Hibar Budaya Nusantara kini bahkan masuk dalam kalender event Jawa Barat. Posisi tersebut membuka peluang lebih besar bagi Kuningan untuk memperkenalkan seni, tradisi, budaya, dan ekonomi kreatif daerah kepada masyarakat yang lebih luas.
Bagi Saung Kopi Hawu, enam tahun bukan garis akhir.
Justru menjadi titik untuk memperluas langkah.
Budaya Kuningan tidak cukup hanya disimpan sebagai cerita masa lalu. Ia harus hadir dalam karya, kreativitas, ruang publik, dan kehidupan generasi muda.
Dan melalui semangat “Nu Ngora Nu Ngabuana”, pesan itu kembali ditegaskan:
generasi muda harus ngabudaya, berkarya, dan membawa identitas Kuningan ke buana.
Dari Hawu, Kuningan bergerak. Dari budaya lokal, menuju ruang yang lebih luas.
alt="WartaNewsTVToday"
style="width: 425px; height: 280px; object-fit: contain; display: block; margin: 0 auto;" />









